Selasa, 10 April 2018

Arti dan Makna Simbol-simbol Ritual dalam Selamatan Adat Jawa.

Simbol-simbol Ritual yang sering digunakan dalam Selametan (wilujengan) Adat Jawa antara lain:

1. Tumpeng sejodho
Tumpeng sejodho ini biasanya dibuat dari nasi putih yang berbentuk tumpeng atau seperti gunung yang berjumlah dua (sepasang) dan bentuknya lebih kecil dari tumpeng yang lain. Arti dari tumpeng sendiri dalam masyarakat Jawa sering disebut “metu dalan kang lempeng” yang diartikan bahwa manusia dalam kehidupannya didunia diwajibkan melalui jalan yang lurus (lempeng) dan juga jalan yang benar, seperti yang diajarkan oleh agama. Selain itu, tumpeng yang berbentuk seperti gunung juga merupakan gambaran dari bidang-bidang kehidupan manusia dan puncak dari tumpeng merupakan gambaran dari kekuasaan Tuhan yang bersifat transendental. Arti lain dari “tumpeng sejodo” adalah pralambang Rwa Bhineda = loro-lorone atunggal, dan juga sebagai pralambang Purusa dan Pradhana (sifat laki-laki dan perempuan) serta mengingatkan kita bahwa Manu dan Dewi Satarupa adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Hyang Widhi, dan merupakan cikal bakal manusia di Bumi ini.

2. Tumpeng Robyong
Tumpeng robyong merupakan tumpeng dari nasi putih yang pinggirnya dihiasi dengan daun-daunnan, antara lain daun dadap, daun turi, dan sebagainya. Tumpeng robyong sebagai gambaran kesuburan dan kesejahteraan. Tumbuh-tumbuhan ataupun sayur-sayuran yang dipakai untuk kebutuhan hajat atau slametan tersebut diharapkan akan segera tumbuh kembali.

3. Tumpeng Gepak
Tumpeng gepak merupakan pralambang dari “rojo koyo” yaitu hewan-hewan peliharaan dari orang yang sedang melaksanakan hajat tersebut, semoga hewan peliharaan tersebut dapat cepat beranak pinak, sehingga dapat dipergunakan untuk membantu kehidupan manusia.

4. Ambengan
Ambengan adalah nasi putih yang ditempatkan dalam wadah, wadahnya dapat berupa panci atau besek/encek. Ambengan merupakan gambaran dari bumi (tanah) sebagai tempat hidup dan kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan baik itu manusia, hewan, tumbuhan, dan lainnya, yang harus dijaga kelestariaannya, karena itu merupakan unsur yang penting dalam kehidupan semua makhuk ciptaan Tuhan.

5. Ingkung
Ingkung adalah ayam yang dimasak secara utuh setelah dibersihkan bulu dan kotorannya. Dalam penyajiannya ayam diikat sehingga rapi, masyarakat jawa sering menyebutnya “diingkung” artinya ayamnya diikat/ditaleni. Ingkung sebagai perlambang dalam beribadah/berbhakti, masyarakat jawa sering memaknainya “manembaho ingkang linangkung” yang berarti manusia dalam beribadah/berbahakti kepada Tuhan sebaiknya bersegeralah dan beribadah/berbhaktilah dengan khusuk, seakan engkau akan mati besok. Dengan makna tersebut manusia akan lebih khusuk lagi dalam beribadah/berbhakti kepada Tuhannya. Selain itu, makna dari ayam yang diikat/ditaleni tadi adalah mengambarkan bahwa manusia dalam kehidupannya sebaiknya mengendalikan hawa nafsunya agar tidak berlebihan dan terlalu ambisius dalam berbagai bidang kehidupan.
Ingkung itu artinya: ingkar.

Kenapa mesti ayam jago yang dijadikan bahan bakunya, nah disinilah hal yang menarik. Ayam jago, yang setiap hari kita kenal memiliki beberapa perilaku yang (nuwun sewu) kurang ajar. Begitu bangun tidur dia selalu berkokok dengan tujuan untuk menujukkan kekuatan yang dia miliki. Setelah bangun dan keluar untuk menikmati udara pagi si jago ini selalu mencari mangsa, yaitu dengan mengejar-ngejar ayam babon hanya untuk pelampiasan nafsu kejagoanya. Dan selepas itu dengan santainya meninggalkan sang babon yang sudah diambil madunya di pagi hari. Hmmmm ….. (kurang ajar banget tuh si jago).

Tidak hanya sebatas itu, setelah si babon bertelor, …. Jago-pun tanpa perasaan bersalah tidak mau bertanggung jawab terhadap hasil perbuatannya.
Bila jago itu bertemu sesama jago akan selalu bertengkar sampai salah satu jago klenger dan menyerah tanpa syarat kepada jago penguasa. uedann tenan kannn ….
Tujuan Ingkung dihadirkan dalam suatu prosesi selametan/kenduri adalah sebagai perlambang atau kiasan bahwa kita sebagai manusia untuk tidak ingkar /tidak mengikuti sifat-sifat yang dilakukan oleh ayam jago. Dalam ajaran Jawa dikenal dengan MO LIMO, yaitu suatu perbuatan dosa yang tidak boleh dikerjakan, yang jika dikerjakan akan terjerumus dalam jurang kenistaan.

Dosa Mo Limo yaitu:
1. Mabuk (suka mabuk karena minuman keras, mabuk asmara, dll)
2. Main (suka berjudi)
3. Madat (Suka Nyabu)
4. Madon (Suka bermain perempuan)
5. Maling ( Suka Nyuri)

Mengapa harus diikat ? Ayam jago memiliki sifat angkuh, merasa paling gagah dan paling cakep. Bahkan ayam jago juga sok jagoan, merasa paling jago bertarung, mudah marah dan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Lihat saja bagaimana ayam jago berjalan dengan membusungkan dadanya, tak mau akur dengan ayam jago lain, 'jegrak' jambul dan sayapnya bila berhadapan dengan jago lain yang juga sok jagoan tak mau tunduk dihadapannya.

Selain sangat membanggakan tajinya/jalunya, ayam jago juga salah satu makhluk yang doyan kawin. Perhatikan bagaimana ayam jago hendak mendapatkan betina. Ayam jago akan pura-pura sok dekat sok perhatian, pura-pura nunjukin ceceran makanan di tanah agar si-betina mendekat. Setelah si-betina terlihat akrab dan mau mendekat buru si-jantan langsung nangkring diatas tubuh si-betina melepas syahwatnya. Setelah itu, masih pura-pura dekat sebentar kemudian ditinggalkan mencari si-betina lain. Parahnya ada juga jago yang maksakan kehendak mengejar-ngejar si-betina hingga lari terbirit-birit, setelah nangkring, lagi-lagi sok ngasih perhatian sok romantis lalu ditinggal pergi begitu saja.

Ayam jago adalah gambaran makhluk egois, sombong, kasar, pengumbar hawa nafsu, buaya darat, tak bertanggung jawab. Oleh karenanya ketika menjadi ingkung akan diikat seluruh tubuhnya dan dibersihkan luar dalam. Diikat 'njungkung' seperti orang sujud sebagai simbol  cita-cita manunggal. Diwujudkan dengan selalu njungkung (bersujud), dan diperoleh dengan selalu manekung, manembah, sumeleh, sujud kepada Tuhan.
Kita berharap agar sifat buruk ayam jago itu dibuang jauh-jauh, memaksa diri sendiri untuk mengikat hawa nafsu hewani agar senantiasa manembah, sumeleh, pasrah, rendah hati, merontokkan bulu-bulu kebanggaan, untuk membersihkan jiwa dan raga. Itulah laki-laki sejati, laki-laki yang mampu menahan diri mengikat hawa nafsu membersihkan jiwa raga, (njungkung) merendahkan diri kehadapan Tuhan dan sesama manusia.
6. Jenang Palang
Jenang palang adalah nasi putih yang dicampur dengan gula merah dan diatasnya diberi daun pandan yang dipalangkan dan biasanya ditempatkan pada piring. Jenang palang merupakan penggambaran bahwa dengan slametan tersebut diharapkan akan menghalangi “komo sengkolo” atau gangguan dan mala petaka yang sudah ada maupun gangguan yang akan datang, baik itu gangguan dari manusia ataupun dari makhluk bawahan/bhuta kala.

7. Jenang Pliringan
Jenang pliringan merupakan pralambang dari “kakang kawah adhi ari-ari”. Hal ini terkait dengan ajaran mistik dalam masyarakat jawa bahwa setiap manusia memiliki empat saudara yang dikenal dengan sebutan “kakang kawah adhi ari-ari”. Sedangkan dua saudara yang lain adalah “rah” (darah) dan “puser” (tali pusar). Keempat saudara tersebut dalam konteks Jawa dihayati sebagai “sing ngemong awak” artinya yang menjaga dan memelihara manusia, karenanya harus dihormati, tidak disia-siakan, dan selalu “disapa” dalam setiap ritual slametan atau wilujengan.

8. Jenang Abang Putih
Jenang abang putih sebagai pralambang terjadinya manusia yang melalui benih dari ibu yang dilambangkan dengan jenang warna merah dan benih dari bapak yang dilambangkan dengan jenang warna putih. Jenang ini terbuat dari nasi putih, untuk warna merah dalam penyajiannya nasi putih dicampur dengan gula merah dan untuk yang satunya nasi putih disajikan secara utuh.

9. Jenang Baro-baro
Jenang baro-baro merupakan perlambang dari kehidupan mikrokosmos, artinya selain manusia yang hidup dibumi ini ada makhluk hidup lain yang diciptakan oleh Tuhan dan hidup berdampingan dengan manusia itu sendiri, yang keberadaannya sering terlupakan karena memang ukurannya yang tak dapat terlihat oleh mata secara sekilas yaitu hewan-hewan yang ukurannya serba kecil seperti misalnya semut, kutu, belalang, nyamuk, lalat, dan masih banyak lagi, yang kehidupan mereka juga mendukung kelangsungan ekosistem di bumi ini. Atas dasar itu, masyarakat jawa menyedekahi bangsa “kutu-kutu walang atogo” sebagai rasa kepedulian terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

10. Jajan Pasar
Jajan pasar sebagai perlambang dari sesrawungan atau hubungan kemanusiaan, silaturahmi/anjangsana antar sesama manusia. Hal ini diasosiasikan bahwa pasar adalah tempat bermacam-macam barang dan bermacam-macam manusia, seperti dalam jajan pasar ada buah-buahan, makanan kecil, sekar setaman, rokok dan sebagainya. Dalam jajan pasar juga sering ada uang dalam bentuk “ratusan” yang dalam bahasa jawa  “satus”, yang merupakan simbol dari sat atau “asat” yang berarti habis dan “atus” yang berarti bersih. Hal ini dapat diartikan bahwa manusia dalam beribadah/berbhakti kepada Tuhan untuk membersihkan diri dari dosa hendaknya dilakukan sampai benar-benar bersih sehingga ketika mereka kembali kepada Sang Pencipta sudah dalam keadaan benar-benar bersih.

10. Dhem-dheman
Dhem-dheman ini terbuat dari daun “dadap srep” yang direndam air dalam suatu wadah.
Dhem-dheman merupakan lambang dari ketentraman, dengan diadakannya slametan dhem-dheman diharapkan kehidupan manusia atau orang yang menyelenggarakan hajatan tersebut akan “adhem ayem toto titi temtrem” yaitu tenang, tentram, dan damai tidak ada suatu halangan apapun dalam menghadapi kehidupan. 

11. Telur, sebagai lambang dari “wiji dadi” atau benih terjadinya manusia.
12. Kecambah/capar, simbol dari benih dan bakal manusia yang akan selalu tumbuh seperti kecambah/capar.

13. Kacang  Panjang, dalam  kehidupan sehari-hari  semestinya  manusia  selalu  berpikir panjang (nalar kang mulur) dan jangan memikirkan pikiran yang picik, sehingga akan selalu dapat menanggapi segala hal dan keadaan dengan penuh kesadaran dan bijaksana.

14. Tomat,  kesadaran  akan  menimbulkan  perbuatan  yang  gemar  “mad-sinamadan”  dan berupaya menjadi “jalma limpat seprapat tamat”. Manusai dalam menjalani kehidupannya diharapkan dapat selalu cermat dalam berbagai bidang kehidupan dan diharapkan dapat selalu paham situasi yang sedang terjadi maupun kejadian yang sedang dihadapinya dan dapat mengikutinya.

15. Kangkung, manusia diharapkan termasuk sebagai manusia yang linangkung atau manusia yang mempunyai kelebihan dalam bidang apapun.

16. Kupat Lepet, dalam menyelenggarakan selamatan dan perbuatan yang dilakukan setiap hari tentunya tidak luput dari kesalahan (lepat) / ngaku lepat artinya mengakui kesalahan, untuk itu semoga Tuhan selalu memberikan ampunan segala kesalahan dan dosa-dosa yang telah diperbuat. Yang selanjutnya semua dosa dan kesalahan yang telah diampuni agar disimpan dengan rapat (disilep kang rapet) agar tidak diungkit-ungkit lagi.

17. Pisang, yang dalam bahasa jawa disebut “gedang” merupakan pralambang dari etika kehidupan, diharapkan orang yang melakukan hajat tersebut ataupun manusia pada umumnya dapat mencontoh watak pisang yang dapat hidup dimana saja (ajur ajer), dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Disamping itu bagian dari tanaman pisang juga sangat banyak manfaatnya, mulai dari daunnya, batang pohon, buahnya sendiri dan masih banyak yang lainnya. Selain itu, pisang (gedang) sering juga dimaknai sebagai “gumreget nyuwun pepadhang” artinya manusia dalam menjalani kehidupannya diharapkan selalu meminta petunjuk hanya kepada Tuhan dalam keadaan atau situasi apapun.

18. Ketan, Kolak, Apem.
Sebagai perlambang persahabatan yang erat (ketan = keraketan) bagaikan nasi ketan yang lengket (raket) sulit dipisahkan. Kolak (kekoncoan nganggo akhlak) sebagai perlambang dalam persahabatan harus disertai dengan akhlak, sehingga dalam kehidupannya bisa terwujud rasa Ayem jenjem permanem (Apem).
19. Pembakaran kemenyan/pasepan sebagai sarana “lantaran”, setelah semua “ubarampe” atau piranti slametan dihaturkan atau dikemukakan maksud dan tujuan diadakannya slametan tersebut oleh sesepuh setempat, biasanya ditutup dengan berdoa dan membakar kemenyan, hal ini dimaknai sebagai sarana terkabulnya doa-doa yang diinginkan. Pembakaran kemenyan dalam tradisi masyarakat Jawa sering dimaknai sebagai “talining iman/kapercayan, urubing cahya kumara, kukuse kumelun ngantariksa ngambah Swarga, ingkang nampi Dzat ingkang Maha Kuwoso”,  artinya bahwa slametan yang dilaksanakan tersebut diharapkan akan lebih meningkatkan keimanan/sradha kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bagi keluarga yang melaksanakan maupun bagi seluruh manusia pada umumnya. Selain  itu, niat dari slametan atau tujuan diadakannya hajatan itu digambarkan seperti “urubing cahya kumara” yaitu seperti api yang berkobar-kobar, berharap bahwa tujuannya segera tercapai, sedangkan asap (kukus) dari kemenyan dimaknai akan membawa/mengantarkan doa-doa yang dihaturkan terbang sampai ke Swarga dan dapat direstui dan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga ada manfaatnya.
Dihimpun dari berbagai sumber.
Oleh : Mbah Dharmo.

www.mbahdharmo2013@gmail.com

Jumat, 15 Desember 2017

Pura Ngesti Dharma Sumberjo

Pura Ngesti Dharma Dusun Sumberjo terletak di Jl. Patokwesi Dusun Sumberjo RT. 02 RW. 03 Desa Jambewangi Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Pura tersebut berdiri pada tahun 1968. Pura Ngesti Dharma tersebut adalah sebagai tempat ibadah/bhakti bagi umat Hindu di Dusun Sumberjo dengan jumlah penyungsung -+ 95 KK. Hari Piodalan Pura Ngesti Dharma Dusun Sumberjo dilaksanakan setiap Tumpek Wariga. Ketua Krama Pura: Bapak Kusnadi, Pemangku: Sujiman Prakoso, Wakil Pemangku: 1. Tukul Wahyudi, 2. Sugito. Ketua PHDI: Sukaryono.




Selasa, 12 Desember 2017

Sapta Loka Dalam Kepercayaan Hindu

SAPTA LOKA DAN PATALA.
Om Swastyastu.
Om Awignamastu namo sidham.
Ajaran para leluhur terdahulu, telah membagi alamsemesta ini menjadi tujuh alam yang bersekala besar sebagai tempat kediaman setiap jenis mahluk ciptaan Tuhan. Masing-masing alam terdiri dari alam atas dan bawah. Pengelompokan alam ini disebut dengan Loka dan Tala. Ini ibarat sebagai mata uang yang memiliki dua sisi. Kedua jenis alam sebagai pemisah atau sekat dan sebagai pemisah golongan dari mahluk-mahluk. Tinggi dan rendah posisi setiap mahluk memiliki fungsi dan kemampuan tersendiri. Loka berarti ruangan yang luas atau dunia. Sedangkan kata Tala berarti bagian bawah atau dasar. Sapta Loka berarti tujuh dunia atau alam sedangkan Sapta Tala berarti tujuh tempat bawah.
 
Loka dan Tala.
Setiap Loka dan Tala merupakan bidang kosmos, sapta loka digambarkan seperti lingkaran bola dari tujuh tingkatan masing-masing. Hal ini sering disebut sebagai alam rohani. Sapta Patala sering disebut sebagai alam fisik atau material. Dari kedua pembagian antara Loka dan Tala memiliki pembagian masing-masing yang berjumblah 14 bagian. Bagian-bagian memiliki pembagian tinggi rendah suatu posisi kediaman dari mahluk tertentu. Jadi, hal ini ini sebagai patokan umat Hindu kenapa kita mengenal dengan pembagian alam dan sering kati kita mengenal dengan mahluk tidak kasap mata. 
Nah mari sekarang kita langsung saja melihat pembagian golongan alam dari Sapta Loka dan Sapta Tala ini atau sering disebut Sapta Patala.

Sapta Loka (dilihat dari paling bawah ke atas).
1. Bhur loka.
2. Bvah loka.
3. Svah loka.
4. Maha loka.
5. Jana loka 
6. Tapa loka.
7. Satya loka. 

Sapta Tala/Sapta Patala ( dilihat dari yang paling bawah ke atas).
1. Patala.
2. Rasatala.
3. Mahatala.
4. Talatala.
5. Sutala.
6. Vitala.
7. Atala.  

Pada sebuah konsep alam yang dipaparkan di Jainisme, penggolongan menjadi tiga kelompok. Pembagian ketiga kelompok itu adalah Urdhva loka, Madya Loka, Adho Loka. Urdhva Loka sebagai alam keatas yang dimulai dari Bvah Loka sampai Satya loka. Sedangkan alam bumi atau Bhur Loka terdapat pada penglompokan Madya Loka atau alam tengah. Pada Adho Loka atau tingkatan bawah tergolong Sapta Patala. Asal diketahui ada beberapa yang penulis temukan mengenai jenis alam yang memiliki pembagian masing-masing atau bisa disebut sebuah cabang alam. Sehingga 14 alam hanya sebagai pengelompokan utama, namun tetap memiliki cabang masing-masing.

Penjelasan Alam.

v Urdva Loka : 1. Satya Loka di tempati oleh Brahma yang jaraknya sangat jauh dari Bhima Shakti, 2. Tapa Loka di tempati oleh para Kumara antaranya Sanat, Sanak, Sanandan, dan Sanatan dan terletak 120.000.000 yojanas di bawah Satya-Loka, 3. Jana Loka terletak 80.000.000 yojanas di bawah Tapa Loka di huni oleh para Rsi, 4. Maha Loka 20.000.000 yojanas dari Jana Loka bertempat para bijak lainya seperti Rsi Brghu. Di alam ini para mahluk suci memiliki kecepatan gerakan tak terhingga seperti cahaya, 5. Svah Loka adalah alam kemewahan yang terletak 80.000 yojanas bertempat 33 Dewa di dalam Veda baik itu para malaikat, para Marut, para Vasu dan Gandharva dengan pimpinanya Dewa Indra. Di alam ini juga terdapat pohon pengabul permintaan yaitu pohon Parijata, sapi suci Kamadhenu, dan gajah tunggangan Dewa Indra yaitu Uchhchaihsrava. 6. Bhuvah Loka adalah alam yang tergolong pada tata surya seperti matahari dimana para setengah dewa berada yang dengan pelayananya yang baik lahir kembali menjadi manusia. Pada Bhvah Loka memiliki bagian alam lainya seperti:
-  Dhruva Loka: pada alam ini berjarak 10.000.000 dari Maha Loka yang tergolong dari alam ini adalah galaksi Bhima Shakti.
-  Sapta Rsi Loka: tempat dari tujuh Rsi agung dengan bertempat 100.000 yojanas dari Drhuva Loka yang berkisar pada bintang kutub.
-  Nakshtra Loka: di baca juga Naksatra Loka yang bertempat pada bintang-bintang dan berkaitan dengan zodiak.
-  Lokas: adalah alam dari planet-planet yang berkisaran pada matahari. Antaranya Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus yang merupakan tempat tinggal dari Budha, Sukra, Mangal, Brihaspati dan Shanaichar/Saniscara. Jarak masing-masing planet ini kurang lebih 200.000 yojanas.
-  Surya Loka: terletak 100.000 yojanas dari Bumi dengan Dewa Surya sebagai pimpinan.
-  Candra Loka: tempat dari Dewa Candra atau Soma.
-  Siddhaloka, Charanaloka, & Vidyadharaloka : alam yang berkisar dan tersebar di tata surya dan berorbit pada bulan. Pada alam ini mahluk terlahir dengan kemampuan siddhi mistik. Mereka sering mengunjungi Bumi sebagai utusan.
-  Antariksa Loka : alam yang berkisar di atas Bumi. Pada alam ini bertempat Yaksha, Rakshashas, ​​Pisachas, Hantu, dan makhluk etheral lainnya.

v Madya Loka atau alam tengah. Pada alam ini tergolong dengan Bhur Loka dan dikenal dengan Bhumandala. Pada alam Bhumandala ini juga memiliki bagian tempat lain di antaranya Jambu-dvipa,Plaksha-dvipa, Salmali-dvipa, Kusha-dvipa, Krauncha-dvipa, Shaka-dvipa, Pushkar-dvipa. Masing-masing tempat memiliki kehidupan dikelilingi lautan luas dan spesies humanoid. Sedangkan Jambu Dvipa adalah alam dari manusia itu sendiri.

Kemudan mari kita jelaskan tingkatan alam kebawah yang di kenal dengan Sapta Patala atau Adho Loka.
Pada alam ini terletak 70.000 yojanas dari Bumi dan 10.000 yojanas jarak dari masing-masing alam berikutnya.  Di dalam Visnu Purana di ceritakan kunjungan dari Rsi Narada kealam Patala dan menyatakan alam ini lebih indah dari Svarga Loka. Digambarkan alam ini memiliki perhiasan yang indah, perkebunan yang indah, danau yang indah, dan gadis-gadis penghuni alam neraka. Digambarkan pula terdapat music yang merdu dan aroma manis dari udara. Tanah di sana berwarna putih, hitam, ungu, berpasir, berbatu, dan juga memiliki emas. Untuk nama dari Loka ini berbeda dari Purana-purana di antaranya di Visnu Purana di sebutkan dengan Atala, Vitala, Nitala, Garbhastimat, Mahatala, Sutala dan Patala. Dalam Bhagavata Purana dan Padma Purana, mereka disebut Atala, Vitala, Sutala, Talatala, Mahatala, Rasatala dan Patala. Siwa Purana, menggantikan Mahatala dengan Tala. Sedangkan Vayu Purana menyebut mereka Rasatala, Sutala, Vitala, Gabhastala, Mahatala, Sritala dan Patala.
Mari kita ambil penjelasan dari Bhagavata Purana dan Devi-bhagavata Purana di karenakan pada kitab purana ini memiliki penjelasan lebih rinci. Loka yang tergolong dalam Adho Loka yitu :
1.    Atala: di perintah oleh Bala-Putra Maya yang memiliki kekuatan mistik. Dia bisa menciptakan tiga perempuan yaitu Svairiinis yang suka menikah dengan lelaki dari klompok sendiri. Kaaminiis yang menikah dengan klompok manapun. Pumsiniis adalah wanita yang terus merubah pasangan. Dinyatakan bila pria memasuki alam Atala, mereka di sambut oleh wanita disana dan di ajak untuk berpoya-poya dengan minuman dan berbagai hal yang memabukan dan ahirnya mengundang nafsu sexsual. Para wanita mengajak hubungan badan yang membuat para lelaki lupa datangnya kematian.
2.    Vitala: di perintah oleh Dewa Hara-Bhava dengan Dewi Bhavani sebagai pasangan sexsualnya. Hara-Bhava adalah bentuk dari Shiva yang tinggal dengan para Gana di alam Vitala. Dari hubungan badan Dewa dan Dewi dinyatakan airmani yang keluar membentuk sungai yang disebut sungai Hataki dan apabila di sulut api berbentuk emas yang disebut Hataka. Para penduduk alam ini berhiaskan dengan emas-emasan.
3.    Sutala: alam ini dipimpin oleh raksasa Mahabali/ raksasa Bali. Diceritakan beliau di jatuhkan kealam ini oleh Vamana Avatara. Namun Bali berdoa dan melakukan pengabdian kepada Dewa Visnu dan di anugrahi dengan kekayaan dan lebih kaya dari Indra.
4.    Talatala: di alam ini di pimpin oleh Maya dan atas berkah Shiva dia akan selalu dilindungi oleh Shiva sendiri.
5.    Mahatala: dihuni oleh anak-anak dari Kadru yaitu para Naga. Krodhavasha, Kuhaka, Taksshaka, Kaliya dan Sushena.
6.    Rasatala: dihuni oleh para butha seperti Danavas dan Daityas. Mereka dikenal sebagai musuh para Dewa dan selalu tinggal di gua seperti gua ular.
7.    Patala: atau juga di sebut Nagas yang  merupakan alam paling bawah para Naga. Dengan pimpinana Naga Vasuki. Para naga ini di hiasi dengan bebagai permata pada mahkotanya sehingga merubah kegelapan di tempat itu menjadi terang. 

      Sekian dulu penjelasan dari penulis mengenai pengelompokan alam. Tulisan ini bersifat berbagi pengetahuan kepada semua kalangan. Penulis berharap dengan mengetahui dan membaca artikel ini, penulis berharap bisa menambah wawasan para pembaca sekalian. Sudah barang tentu tulisan ini masih banyak kekurangan karena terbatasnya pengetahuan dari penulis. Penulis sangat mengharap atas kritikan, saran dan masukan dari para pembaca sekalian demi sempurnya tulisan ini. Semoga tulisan ini ada guna manfaatnya dan terima kasih.
Om Santi sant santi Om.
Dikutip dari berbagai sumber.

Roh Manusia Kaitannya Dengan Upacara Slamten Adat Jawa.

Roh-roh yang Manuksma pada jasad manusia kaitannya dengan upacara Slametan adat Jawa
Sinkretisme Jawa dengan Islam membuahkan konsep “Islam Kejawen” dalam menjelaskan perkara “hidup-mati” manusia. Diantaranya, bahwa manusia hidup disebut utuh (jangkep) bilamana telah bersatu dan “kasuksma” 8 Roh: Roh Idhofi (Suksma Sejati), Roh Rohani, Roh Jasmani, Roh Nurani, Roh Rahmani, Roh Nabati, Roh Rewani dan Roh Rabani. Ketika manusia meninggal, maka roh-roh yang Manuksma pada jasad manusia tersebut secara bergiliran akan melepaskan diri.

Keterangannya adalah sebagai berikut :
1.    Pada saat meninggal yang terlepas adalah roh utama manusia yang di sebut Suksmâ Sêjati atau Roh Idhofi yang semasa manusia hidup roh tersebut menyatu dengan karakter dan watak manusianya. Menurut keperyaan Hindu bahwa roh utama tersebut masih berada di Bhurloka (alamnya manusia dan makhluk hidup lainnya) dengan penguasanya Dewa Brahma.
Maka pada saat meninggal ini diadakan Upacara ngesur tanah (Geblag).
Upacara ini dilaksanakan pada hari meninggalnya seseorang tepatnya pada sore hari. Sur tanah atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang kubur bagi jenazah). Upacara ini memiliki makna bergesernya kehidupan fana ke alam baka. Hal ini juga dapat diartikan bahwa semua manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.
Pada upacara ini hidangan yang harus di sajikan adalah :
a.   Nasi gurih (sekul wuduk)
b.  Ingkung (ayam dimasak utuh)
c.  Urap (gudhangan dengan kelengkapannya)
d.  Cabai merah utuh
e.  Krupuk rambak
f.   Kedelai hitam
g.  Bawang merah yang telah dikupas kulitnya
h.  Bunga kenanga
i.   Garam yang telah dihaluskan
j.   Tumpeng yang dibelah dan diletakkan dengan saling membelakangi (tumpeng pungkur).

2.      Pada Hari ke tiga yang terlepas adalah Roh Rohani yang menyatu dengan nafsu.
Maka pada hari ke-tiga ini diadakan Upacara Nelung dina.
Slametan ini dilakukan untuk memperingati tiga hari setelah meninggalnya seseorang atau pada pasaran ketiga. Slametan ini sebagai bentuk penghormatan ahli waris kepada roh yang meninggal. Konon, menurut kepercayaan orang jawa pada hari ketiga setelah meninggal, roh seseorang masih berada di dalam rumah. Roh ini mulai mencari jalan keluar yang mudah untuk meninggalkan rumah dan keluarganya untuk menuju ke Bhwah Loka (alamnya para Pitara/Roh) dengan penguasanya Dewa Wisnu.
Sajian yang harus dihidangkan pada slametan ini adalah sebagai berikut :
a.  Golongan bangsawan :
Ø  Takir plontang yang berisi nasi putih dan nasi kuning, dilengkapi dengan sudi-sudi yang berisi kecambah, kacang panjang yang telah dipotongi, bawang merah yang telah diiris, garam yang telah digerus (dihaluskan), kue apem putih, uang, gantal dua buah.
Ø  Nasi asahan tiga tampah, daging lembu yang telah digoreng, lauk-pauk kering, sambal santan, sayur menir, jenang merah.

b.  Golongan rakyat biasa :
Ø  Nasi ambengan, nasi gurih, ketan kolak, apem, ingkung ayam, nasi golong dan bunga yang dimasukan dalam lodhong/toples serta kemenyan.

3.   Pada Hari ke tujuh yang terlepas adalah Roh Jasmani yang menyatu dengan sifat baik manusia.
Maka pada hari ke-tujuh ini diadakan Upacara Mitung dina.
Slametan ini dilakukan pada tujuh hari setelah meninggalnya seseorang. Slametan ini juga dimaksudkan untuk menghormati roh orang yang telah meninggal. Menurut kepercayaan orang jawa pada hari ketujuh ini roh akan keluar dari rumah. Untuk memperlancar roh keluar dari rumah, secara simbolis ahli waris membuka genting atau jendela sebelum acara di mulai. Setelah roh keluar dari rumah, roh akan berhenti sejenak di pekarangan rumah atau halaman sekitar. Sedangkan menurut kepercayaan Hindu, pada hari ke tujuh perjalanan roh dari Bhwah Loka menuju ke Swah Loka ( alamnya para dewa) dengan penguasanya Dewa Iswara.
Pada acara mitung dina ada pembacaan mantra-mantra suci puja pitara. Hal ini dimasudkan untuk mempermudah roh meninggalkan pekarangan rumah atau halaman sekitar. Puja pitara sebenarnya dilakukan selama tujuh hari dan mitung dina adalah acara penutup puja pitara tersebut. Pada akhir acara peserta slametan diberi bancakan/brekat yang berisi nasi dan lauk pauknya.

Sajian yang harus dihidangkan pada acara ini adalah sebagai berikut :
Ø  Kue apem yang didalamnya diberi uang logam, ketan kolak semuanya diletakkan dalam satu takir.
Ø  Nasi asahan tiga tampah, daging goreng, pindang merah yang dicampur dengan kacang panjang yang diikat kecil-kecil, dan daging jeroan yang ditempatkan dalam wadah berbentuk kerucut (conthong), serta pindang putih.

4.   Pada Hari ke empat puluh yang terlepas adalah Roh Nurani yang menyatu dengan akal budi manusia.
Maka pada hari ke-empat puluh ini diadakan Upacara Matang puluh.
Upacara ini untuk memperingati empat puluh hari setelah meninggalnya seseorang. Slametan ini bertujuan untuk menghormati dan mempermudah perjalanan roh yang akan menuju alam kubur. Untuk mencapai tujuan matang puluh, ahli waris dan para tamu yang diundang membacakan mantra puja pitara dan doa. Menurut kepercayaan orang jawa, pada hari ke empat puluh roh orang yang meninggal mulai mencari jalan menuju alam kubur. Jalan yang dicari adalah jalan yang dilewati ketika pemberangkatan jenazah yang sudah dibersihkan sehingga terhindar dari aral yang melintang. Sedangkan menurut kepercayaan Hindu, pada hari ke empat puluh perjalanan roh dari Swah Loka akan menuju ke Maha Loka dengan penguasanya dewa Mahadewa.
Pada upacara ini dilakukan penyempurnaan roh dan jasad dengan menyediakan ubarampe. Bagian jasad yang disempurnakan adalah darah, daging, sungsum, jeroan (isi perut), kuku, rambut, tulang, dan otot. Ubarampe adalah bahan sesaji yang harus ada ketika slametan diadakan. Ubarampe terdiri dari benang lawe, jodog, sentir, cupak , minyak klentik satu botol, sisir, minyak wangi, cermin, kapas, pisang raja, beras, gula kelapa, jarum dan perlengkapannya, serta bala pecah.
Pada slametan ini bahan –bahan yang harus ada sama dengan bahan-bahan pada acara mitung dina, tetapi ada sedikit tambahna. Bahan tambahannya antara lain :
Ø  Nasi wuduk
Ø   Ingkung
Ø   Kedelai hitam
Ø   Cabai merah utuh
Ø   Rambak kulit
Ø   Bawang merah yang telah dikupas kulitnya
Ø   Garam
Ø   Bunga kenanga.

5.   Pada Hari ke seratus yang terlepas adalah Roh Rahmani yang mengatur iman dan budi pekerti manusia.
Maka pada hari ke-seratus ini diadakan Upacara Nyatus.
Slametan ini diadakan untuk memperingati hari keseratus dari meniggalnya seseorang. Upacara ini bertujuan untuk menyempurnakan semua hal yang bersifat badan wadhag.
Menurut kepercayaan adat jawa sebelum genap seratus hari roh berada di alam kubur masih sering kembali ke rumah sampai slametan mendhak pisan dan mendhak pindo. Sedangkan menurut kepercayaan Hindu, pada hari ke seratus perjalanan roh dari Maha Loka akan menuju ke Jana Loka  dengan penguasanya Dewa Sada Rudra. Sesaji yang digunakan sama dengan pada saat matang puluh hanya saja ditambah dengan pasung, ketan, dan kolak.

6.   Pada Satu tahun pertama yang terlepas adalah Roh Nabati yang mengatur perkembangan fisik manusia.
Maka pada satu tahun pertama ini diadakan Upacara Mendhak Sepisan.
Mendhak sepisan adalah peringatan satu tahun setelah meninggalnya seseorang. Tata cara dan sesaji pada slametan ini sama dengan slametan nyatus. Slametan ini sering juga disebut meling. Kata meling berasal dari kata eling yang berarti mengingat-ingat. Maksud dari slametan ini adalah agar ahli waris mengingat kembali jasa-jasa orang yang telah meninggal. Meling juga dimaksudkan agar ahli waris mengintrospeksi diri dan selalu ingat bahwa suatu saat si-ahli waris juga akan meninggal dunia. Menurut kepercayaan Hindu bahwa pada satu tahun pertama ini perjalanan roh dari Jana Loka akan menuju ke Tapa Loka dengan penguasanya Hyang Sada Siwa.

7.   Pada Satu tahun kedua yang terlepas adalah Roh Rewani yang juga mengatur perkembangan fisik manusia. Menurut kepercayaan Hindu bahwa pada satu tahun kedua ini perjalanan roh sudah sampai di Tapa Loka dengan penguasanya Hyang Sada Siwa.
Maka pada satu tahun ke-dua ini diadakan Upacara Mendhak Pindho.
Slametan ini bertujuan untuk memperingati dua tahun atas meninggalnya seseorang. Upacara ini juga dimaksudkan untuk menyempurnakan semua kulit, darah dan semacamnya. Pada tahun yang kedua ini jenazah sudah hancur luluh tinggal tulangnya saja. Pada slametan ini juga dibacakan doa dan tahlil. Bahan-bahan sesaji yang digunakan sama dengan slametan mendak pindho.

8.   Pada 1.000 hari yang terlepas adalah  Roh Rabani yang semasa manusia hidup mengatur peredaran darah.
Maka pada 1.000 harinya ini diadakan Upacara Nyewu.
Nyewu yaitu peringatan seribu hari atas kematian seseorang. Menurut kepercayaan orang jawa setelah hari keseribu roh orang yang telah meninggal tidak akan kembali ke tengah-tengah keluarganya lagi. Roh akan benar-benar meninggalkan keluarga dan tempat tinggalnya untuk menghadap Tuhan. Menurut kepercayaan Hindu bahwa pada hari ke-seribu ini perjalanan roh dari Tapa Loka akan menuju ke Satya Loka dengan penguasanya Hyang Parama Siwa. Oleh karena itu slametan ini diadakan lebih besar dari biasanya.
Bahan yang digunakan untuk slametan sama dengan bahan pada slametan sebelumnya. Hanya ada beberapa bahan tambahan yang diperlukan diantaranya :
Ø  Daging kambing/domba becek. Sebelum dimasak becek, seekor domba disiram dengan bunga setaman, lalu dicuci bulunya, diselimuti dengan mori selebar sapu tangan, diberi kalung bunga yang telah dirangkai, diberi makan daun sirih. Keesokan harinya domba diikat kakinya lalu ditidurkan di tanah. Badan domba seutuhnya digambar pola dengan menggunakan ujung pisau. Hal ini dimaksudkan untuk mengirim tunggangan bagi roh yang meninggal supaya lekas sampai ke Surga. Setelah itu domba disembelih dan kemudian dimasak becek/gule.
Ø  Sepasang burung merpati dikurung dan diberi rangkaian bunga. Setelah doa selesai dilakukan, burung merpati dilepas dan diterbangkan. Maksud tata cara ini adalah juga untuk mengirim tunggangan bagi roh yang meninggal agar dapat cepat kembali pada Tuhan. dalam keadaan suci, bersih, tanpa beban.
Ø  Sesaji/ubarampe, terdiri atas tikar bangka/klasa, benang lawe empat puluh helai, jodhog, clupak berisi minyak kelapa dan uceng-uceng (sumbu lampu), minyak kelapa satu botol, sisir, serit, cepuk berisi minyak tua, kaca/cermin, kapuk, kemenyan, pisang raja setangkep, gula kelapa setangkep, kelapa utuh satu butir, beras satu takir, sirih dengan kelengkapan untuk menginang, bunga boreh. Semuanya diletakkan di atas tampah dan diletakkan di tempat orang slametan untuk melakukan doa.

9.  Kol (Kol kolan).
Kol adalah slametan untuk memperingati hari kematian seseorang. Kol harus dilaksanakan tepat pada hari dan bulan yang sama ketika si jenazah meninggal. Kol pertama dilakukan satu tahun setelah slametan nyewu. Bahan yang digunakan untuk slametan adalah kue apem dan ketan kolak yang diletakkan dalam satu takir, pisang raja satu tangkep, uang wajib, dan dupa harum.


Sekian dulu penjelasan dari penulis mengenai pengelompokan alam. Tulisan ini bersifat berbagi pengetahuan kepada semua kalangan. Penulis berharap dengan mengetahui dan membaca artikel ini, penulis berharap bisa menambah wawasan para pembaca sekalian. Sudah barang tentu tulisan ini masih banyak kekurangan karena terbatasnya pengetahuan dari penulis. Penulis sangat mengharap atas kritikan, saran dan masukan dari para pembaca sekalian demi sempurnya tulisan ini. Semoga tulisan ini ada guna manfaatnya dan terima kasih.